Bab2 Yg Terlewatkan By Akmal Sjafril



assalaamu’alaikum wr. wb. 
 
“Ini masalah ‘aqidah, jadi harus tegas!” 
 
Begitu kata seorang pemuda (yang saya perkirakan masih) belia kepada seorang Muslimah yang menyatakan keheranannya mengapa ia harus dihardik hanya karena bertanya. Sang Muslimah benar-benar tulus bertanya disebabkan ketidaktahuannya, namun mendapatkan hardikan sebagai balasannya. Setelah dijelaskan sejelas-jelasnya bahwa ia benar-benar bertanya tanpa maksud tersembunyi apa pun, tak ada sepatah kata maaf pun, melainkan hanya sebuah pembenaran: Ini masalah ‘aqidah, jadi harus tegas! 
  

Tidak adakah lagi batasan antara tegas dan kasar? Apakah kelembutan akan dipandang sebagai kelembekan, sementara sikap yang lembut adalah hak seorang Muslim dari saudaranya? Apakah Rasulullah saw dahulu pernah mengajar ‘aqidah dengan menghardik? 
 
Umat Muslim sungguh-sungguh mendapat pelajaran yang berharga dari seorang pemuda yang datang kepada Rasulullah saw hanya untuk mendapatkan ijin agar bisa terus berzina. Kalau bukan karena Rasulullah saw sendiri yang mencegah, entah pedang siapa yang akan menebas lehernya sejurus setelah mengucapkan permintaan nan ganjil itu. Akan tetapi, Rasulullah saw memenuhi haknya untuk mendapatkan jawaban, dan beliau pun menjawab dengan lembut, perlahan tapi pasti menyentuh akal dan perasaannya. Beliau ajak ia untuk memikirkan bagaimana perasaannya jika ada yang berzina dengan kerabatnya yang perempuan. Tentulah ia akan sakit hati. Di ujung percakapan, Rasulullah saw menyimpulkan bahwa jika ia marah melihat kerabat perempuannya dizinahi orang, maka tentu orang pun akan marah jika ia berzina, sebab yang dizinahinya itu pastilah kerabat seseorang juga. Pemuda itu pun didoakannya, dan hingga akhir hayatnya ia tidak pernah lagi tertarik untuk berbuat zina, meskipun hanya zina mata. 
 
Mengapa pemuda itu tidak langsung saja ditebas, meski permintaannya jauh dari pantas? Ya, memang tidak pantas, namun kita perlu menghargai ketulusan hatinya. Seandainya ia ingin terus berzina dan tidak takut neraka, ia tak perlu repot-repot datang kepada Rasulullah saw. Jika ia tidak takut pada larangan Allah dan Rasul-Nya, tentu ia tak perlu jauh-jauh datang hanya untuk minta ‘dispensasi’ atas larangan zina. Fakta bahwa ia ‘nekat’ mendatangi Rasulullah saw dengan membawa sebuah pertanyaan yang bisa membuatnya ditebas siapa saja menunjukkan bahwa ia benar-benar resah dengan dosanya itu. 
 
Di jaman yang sangat berlainan, tersebutlah kisah kedatangan putri Pramoedya Ananta Toer ke kediaman Buya Hamka. Bersamanya, ikut pula seorang lelaki, kekasihnya yang berniat untuk memeluk agama Islam. Meski Pramoedya adalah musuh dari seluruh sastrawan Islam di masanya, namun ketika putrinya ingin belajar agama, dikirimnya juga kepada Buya Hamka. Melihat kedatangannya, bukan main geramnya anak-anak Buya, sebab mereka mengetahui betapa besar penderitaan para sastrawan Islam akibat ulah gerombolan Lekra – organisasi underbouw PKI – sedangkan Pram salah satu aktor utamanya. Akan tetapi, Buya memperlakukan keduanya dengan sangat baik hingga mereka pamit dari kediamannya. Ketika anaknya menyatakan keheranannya pada sikap lembut beliau, Buya Hamka pun menjelaskan: 
 
“Kalau dia benar-benar orang komunis dia bisa saja kawin melalui catatan sipil masuk Kristen mengikuti bakal suaminya yang beragama Kristen. Tapi kenyataannya dia datang ke sini, memilih kawin secara Islam dan mengislamkan calon suaminya.” 
 
Demikianlah orang beriman mencintai saudaranya, disebabkan oleh keimanan saudaranya itu. Segala permusuhan yang dikobarkan oleh Pramoedya seolah lenyap saja setelah Buya Hamka melihat kesungguhan putrinya untuk menikah dengan cara yang baik menurut ajaran Islam. Kedatangan keduanya ke kediaman Buya Hamka – musuh politik para sastrawan Lekra – sudah merupakan bukti nyata akan keseriusan mereka dalam menjalani aturan Islam. Untuk itu, tidaklah patut bagi seorang da’i atau ulama untuk menyia-nyiakan kesempatan dakwah dengan menghardik, apalagi kalau sekedar untuk memuaskan ego pribadinya sendiri. 
 
Apa salah seorang Muslim atau Muslimah yang bertanya, sehingga ia perlu dihardik? Tidakkah ia berhak mendapatkan penjelasan yang baik dan runut, sehingga ia bisa lebih memahami keindahan Islam? Bukankah sikap kasar hanya akan memberinya alasan untuk semakin menjauhi agama? 
 
Belakangan ini, ada sebuah pergerakan Islam yang merekrut begitu banyak pemuda yang memiliki semangat dan kecemburuan agama (ghirah) yang sangat kuat untuk kemudian dididik dalam kajian-kajian yang hampir selalu membahas seputar jihad. Anak-anak muda yang penuh semangat ini dapat dengan mudah ‘dibakar’ dengan kisah-kisah jihad yang penuh pesona serta kisah-kisah kepahlawanan generasi terdahulu. Dipoles dengan penggambaran yang serba tidak ideal tentang kehidupan di masa kini, jarak yang jauh terbentang antara kondisi umat Muslim sekarang dengan generasi salafush-shalih, dan dilengkapi dengan kesimpulan bahwa saat ini segalanya sudah serba salah; pemerintahnya salah, sistemnya salah, aturannya salah, hukumnya salah, penegak hukumnya salah, pegawai negerinya salah, menteri-menterinya salah, dan semua rakyatnya salah, kecuali yang ikut menyalah-nyalahkan bersama-sama mereka. Semuanya salah, dan tak ada jalan keluar kecuali dengan mengutuki jaman.
  
Para pemuda malang ini didoktrin untuk membenci kemunkaran, namun pada akhirnya benar-benar terjerumus menjadi pembenci yang sesungguhnya. Kemampuan mereka untuk amar ma’ruf nahi munkar malah menjadi tumpul, lantaran mereka malah kebablasan membenci para pelaku kemunkaran dengan kebencian yang sama atau bahkan lebih daripada kebenciannya kepada kemunkaran itu sendiri. Padahal, seseorang yang terjerumus dalam kesalahan bisa jadi semata karena ketidaktahuan, atau karena kesalahpahaman dalam memahami ajaran agama. Akan tetapi, kebencian telah menutup semua jalur komunikasi.
  
Dijejali dengan materi-materi seputar jihad, para pemuda ini mengira telah menjadikan jihad sebagai manhaj-nya, padahal jihad baru ada dalam akal pikiran mereka saja. Dengan membicarakan jihad terus-menerus, mereka pun menyangka bahwa mereka telah benar-benar menjadi mujahid, padahal tubuhnya masih di tanah air, di kampung halaman, duduk aman berhadapan dengan monitor komputer atau laptop, sementara jemarinya dengan lincah mengetikkan kata-kata kebencian.
  
“Banci!”
  
“Dasar anjing-anjing neraka!”
  
“Sesat!”
  
“Kafir!”
  
“Penyembah thaghut!”
  
“Penyembah bilik suara!”
  
Cemen!”
  
Dengan mudahnya, 1.001 hinaan mereka lahirkan dari lisan dan jemarinya, setiap hari. Tiada hari tanpa kebencian, tiada hari tanpa jihad. Rupanya mereka sudah lupa bahwa jihad tidaklah sama dengan kebencian. Mereka marah dengan keadaan, kemudian hatinya yang membara bertemu dengan kisah-kisah heroik para mujahid. Mereka belum lagi insyaf bahwa di jaman yang serba tidak ideal ini, penyimpangan bukan hanya dilakukan oleh musuh-musuh Islam, melainkan juga oleh saudara-saudara mereka sendiri, namun meski melakukan penyimpangan, mereka tidak kurang dari saudara juga. Akan tetapi, bab persaudaraan agaknya lupa diajarkan dalam kajian-kajian yang mereka datangi.
  
Bab akhlaqul karimah entah diletakkan di mana, lenyap bagai asap. Padahal, akhlaq tidaklah terpisah dengan ‘aqidah, sebab akhlaq itu sendiri merupakan alat ukur dari keimanan. Dalam salah satu hadits yang paling dikenal orang, Rasulullah saw bersabda: “Barangsiapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” Jika beriman, maka berkata-katalah yang baik-baik, atau paling tidak diam sajalah. Semakin lancar lisan kita berkata-kata halus, atau semakin kuat kita menahan lidah agar tidak berkata yang buruk-buruk, maka itu adalah tanda kuatnya keimanan kita. Sebaliknya, jika lidah kita begitu mudah mengumbar kata-kata kotor, itu pertanda iman sedang dalam keadaan lemah. Bahkan dalam hadits lainnya, Rasulullah saw bersabda pula: “Jika tak lagi merasa malu, maka perbuatlah semaumu!” Sang Da’i Terbaik yang pernah ada di muka bumi pun ‘angkat tangan’ dari orang-orang yang tak merasa malu, termasuk yang tak malu berkata-kata kotor. Maka, jika rasa malu sudah lenyap tak berbekas, siapa lagi yang dapat menolong?
  
Para pemuda ini tidak mesti tepat benar mewakili sosok para mujahid. Di antara mereka ada pemuda belia yang baru lulus SMA, namun dengan lancar mencaci maki para ustadz yang sudah belasan dan puluhan tahun berkecimpung dalam dakwah. Di antara mereka ada pula mahasiswa yang bahkan di kampusnya pun ‘langkah kakinya tak pernah terdengar’, alias tidak eksis, apalagi berprestasi. Ada pula para pemuda yang selalu bersembunyi di balik identitas palsu yang dapat dibuat dalam waktu kurang dari lima menit saja di dunia maya. Dengan sedikit rekayasa, tak ada yang perlu tahu siapa mereka yang sebenarnya.
  
Melihat kata-kata kasarnya di dunia maya, banyak orang yang akan kaget jika berjumpa dengan dirinya yang ternyata adalah seorang pemuda yang pendiam, pemurung dan lebih banyak menyendiri. Di tengah-tengah keramaian, tak terdengar suaranya, meski seringkali kata-katanya lebih tajam daripada samurai. Dalam kepalanya, hanya ada bab jihad, jihad dan jihad. Mereka tidak pula mempersiapkan ruh, akal, fisik dan perbekalannya untuk pergi ke medan jihad, namun mereka sungguh-sungguh memandang dirinya sebagai mujahid. Merekalah para mujahid yang wajahnya tak pernah dikotori oleh debu dari medan jihad.
  
Kita hanya dapat berdoa, semoga dalam jatah umurnya yang telah dipastikan oleh Allah SWT itu mereka akan menemukan kesempatan untuk mempelajari bab-bab pelajaran yang selama ini telah dilewatkannya. Dengan demikian, Islam pun dapat menjadi sebuah ‘kisah’ yang lengkap, indah dan menyejukkan hati, dan bukannya sepenggal episode yang diulang-ulang tanpa akhir.
  
Semoga Allah SWT melembutkan hatimu, duhai saudara-saudaraku!
  
wassalaamu’alaikum wr. wb.

Sumber :  http://akmalsjafril.com/blog/data/Bab-bab-yang-Terlewatkan

Comments :

0 komentar to “Bab2 Yg Terlewatkan By Akmal Sjafril”

Posting Komentar